Sabtu, 09 Februari 2019

Resensi Kura-Kura Berjanggut


Identitas Buku     : Kura-Kura Berjanggut 
Pengarang           : Azhari Aiyub
Penerbit               : Penerbit baNANA
Tahun Terbit        : 2018
Jumlah Halaman : 960

Sinopsis Buku sesuai sampul belakang :

Dua Budak perempuan Abesy turun di Bandar Lamuri pada paruh kedua abad keenam belas. bintang-bintang di langit pun mulai bergerak menandai awal mula perubahan besar di negeri-negeri Selat Melaka. Anak lelaki salah seorang budak itu kemudian tampil merebut kekuasaan melalui Pembasmian Merica. Dinasti lama tersingkir, demikian pula penguasa sesungguhnya kawasan selat: kongsi dagang Ikan Pari Hitam.

Si Ujud sedang belajar di Sekolah Perkapalan dan Lautan Istamboel saat mengetahui kedua orang tuanya menjadi korban pembantaian. Demi membalaskan dendam, ia rela menempuh jalan berputar: merompak bersama Tata Sifr melawan Liga Suci, memimpin eskader Bumbu Hitam di peraian Sulu, dan bahkan menjadi mata-mata Anak Haram Lamuri. Namun,tak hanya Si Ujud yang bergerak. Persaudaraan rahasia Kura-kura Berjanggut berkali-kali mengirimkan pembunuh bayaran demi mendapatkan kepala Sultan Lumuri. 

Lamuri tak bebas dari banjir darah tiga abad kemudian ketika sekian eksepedisi dikerahkan pemerintah kolonial Hindia Timur. Setelah perlawanan rakyat Aceh diredam, muncul para pembunuh yang hanya mengincar orang kulit putih - suatu hal yang bahkan tak bisa diperkirakan oleh Snouck Hurgronje.

Apa yang kamu pikirkan setelah membaca sinopsis tersebut? Potong kuping jika kamu tidak penasaran. Begitulah pesona buku ini. 

Azhari Aiyub, penulis buku ini adalah seorang sastrawan asal aceh. Ini adalah karya keduanya, Karya pertamanya kumpulan cerpen berjudul perempuan pala.

Jika kamu penulis dan kamu merasa sudah hebat. Coba pikirkanlah sekali lagi setelah membaca buku ini. Naskah ini adalah hasil dari sebuah proses yang membutuhkan ambisi, keyakinan dan ketabahan. Bayangkan, 10 tahun lebih naskah ini ditulis hingga selesai. Tidak ada seujungkukunya dibandingkan dirimu.

Apakah kemudian setelah karya ini diproses selama 10 tahun lebih mengurangi kualitas isi naskahnya? Tentu saja itu hanya omong kosong dari mereka yang iri. Karya ini berhasil meraih penghargaan KSK tahun 2018. Sebuah penghargaan bergengsi tentang buku dan sastra di indonesia. 
Kura-Kura Berjanggut menyerap kita ke dalam petualangan-petualangan menakjubkan yang melibatkan pertempuran di laut, muslihat di antara para pengkhianat, adu gajah sampai mati, nahkhoda Zeeland gila, ulat merica, agama yang memuja kerang yang lebih tua ketimbang alam semesta, wangsa Pemburu Tuhan, penyelewengan perasaan penderita kusta, para pembunuh yang menumpang hidup di negatif fotom pertarungan burung tiung pencicip makanan raja melawan koki asal lombardia, dan sufi Hamzah Fansuri yang diperebutkan Tarekat Burung Pingai dan Pertapa 33 Tasbih sekaligus ditakuti Anak Haram Lamuri.