Elegiku
Setiap guratan pertanyaan yang timbul dari rasa kesepian adalah ruang yang gelap. Setiap pekatnya membawamu jatuh pada kelam lebih dalam. Tak ada keinginan untuk bertahan, hanya lari dari kenyataan. Itulah aku hari ini. Bergerak liar dari pikiran dengki yang membelenggu. Kamu menikmati tayangan hiburan yang menghipnotismu. Kebosanan yang dihasilkan dari situ. Adalah tayangan tiap detik dari pikiran picik untuk bunuh diri. Mencintai syukur adalah upaya terbaik. Ada kamu yang masih hidup, dalam lorong imajinasiku terkunci. Berdiam lirih pada rapal gita yang samar-samar terdengar. Tolong, bukakan aku! Lorong itu terkunci terciptakan. Ia tercipta dari raungan kesedihan dan kebahagiaan orang lain. Memutarkan anak kunci pada bunyi klik yang menandai sebuah penutup. Seperti bayi mengulum susu, ia mempererat ikatan semakin kuat. Gelak sedih yang ditimbulkan menyebabkan kematian dan harapan-harapan yang tak pernah selesai. Aku yang selalu berharap, ka...