Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Perempuan dan gelap

Daripada kau melamun, karena pacarmu hanya membaca tanpa membalas pesanmu, lebih baik kau dengarkan ceritaku. Aku mau menceritakan kepadamu tentang gelap dan perempuan. Asti, pekerja seni, 24 tahun, merenung seumpama peran yang biasa ia lakukan. Peran antagonis yang mengubah hidupnya. Hidupnya yang terang berubah menjadi gelap. Perubahan itu akibat wajahnya yang memiliki kesan jahat seperti singa yang mengaum. Singa adalah raja hutan, asti juga seorang ratu. Ia memiliki anak buah yang membantunya. Anak buahnya memiliki peran yang berbeda. Ada yang berperan mengambil air minum, mengambil makanan sekaligus menyuapinya, hingga ada yang berperan memastikan tidak ada kotoran di sela kuku, dalam telinga, dan mulutnya. Sebagai pekerja seni sekaligus ratu, tentu saja asti biasa menelan pil pahit. Biasanya dari ketidakterimaan penggemarnya. Memang, kekayaan selalu menghadirkan efek buruk. Kecemburuan. Namun, ia tetap lapang dada. Ia tahu mereka tak mengenal dirinya. Jadi ia tetap dengan ...

merancap

kau terlalu sering merancap. bikin malu saja, ujar temanku. aku bisu. gigi putih terasa dingin. tubuh menjadi kaku. tak bergerak meski gerakan minor. memalukan jika kau ketahuan sedang merancap. maksudku, bila kau memang tak percaya dosa, kau bisa berzina jika kau mau. kau terlalu feminis. aku mengelap air maniku. kata-kata temanku masih tergiang dalam otak. aku feminis.  hei, kau harus menghormati perempuan. jika kau mau, kataku. apa yang tidak menghormati perempuan dari sebuah kesepakatan bersama? kau terlalu lembek. seperti manimu. aku menikmati selama ini, sebelum kau datang memergokiku. sesungguhnya aku sekarang ingin membunuhmu. 

Perhatianmu

apapun yang meninggalkanmu. hanya akan menjadi tempat singgah. tidak akan menetap di sana. pasti kembali padamu. seharusnya tak ada rasa jenuh. seharusnya tak ada rasa malas. seharusnya  tak ada rasa lelah. jika kamu mencintainya. namun tidak semudah itu. cinta bisa jadi perlu jeda. jeda bisa jadi singgah. berhenti sebentar di tempat yang baru. ruang yang dipenuhi raung. tempat untuk merenung dan mempertanyakan. bahwa kamu seperti rumah. tempat aku berhenti. menetap dan berkeluh kesah. aku rasa memang betul, pesona rumah memang seperti kamu. tak pernah pergi, menungguku dengan sabar hingga setelah aku berhenti berkelana mengejar hal yang fana. kamu masih berdiri depan pintu. memberikan senyum terbaikmu. menyiapkan bahu untuk aku bersandar. mendengarkan kisahku. sesal dan kegagalan hidup. mungkin saja. semua ini terjadi karena aku mengabaikanmu. perhatianmu yang tak aku dengarkan. aku rasa, salah itu terjadi. aku tak mau dikenal seperti itu. aku mulai dari awal. aku titi lan...