Menunggu hingga kaki hilang
Aku perlu duduk. Tak ada tempat duduk di sekelilingku. Hanya trotoar yang ramai. Aku tak mau duduk di trotoar. Kotor dan bau sampah. Bajuku nanti rusak. Badanku nanti bau. Aku tak mau badanku bau dan rusak. Kalau bukan karena perempuan, aku tak mau menunggu seperti hari ini. Berdiri selama dua jam di pinggir jalan. Melelahkan sekali. Aku tak sanggup lagi berdiri. Kakiku sudah kram. Sebentar lagi, kakiku sangat pegal. Aku harus berpikir. Jalan kaki. Ya, aku harus jalan kaki. Segera saja aku jalan kaki. Jalan kaki bolak balik. Ke kiri dan ke kanan. Sudah terasa lebih baik, rasa kaku mulai mereda. aku mulai menunggu lagi. Demi perempuan itu, aku harus kuat. Sudah 3 jam aku berdiri, ini adalah rekor berdiriku. Rekor terlamaku berdiri adalah saat upacara kemerdekaan. Perempuan itu membuatku mampu berdiri lebih lama dari negara. Tak habis pikirku, bagaimana mungkin bisa terjadi. Tiba-tiba aku merasa malu. Temanku yang nasionalis pasti akan menertawakanku. Masa sama ...