Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016

menuruti perempuan

Untuk sebagian laki-laki, menuruti kata perempuan itu terkesan rendah. Tapi tidak bagi saya. Saya akan selalu menuruti dan mendengar apa kata pacar saya. Sekedar usaha agar saya bisa belajar mencoba hal baru dalam hidup ini. Dalam banyak hal, saya terhitung enggan untuk mencoba. Saya tidak pernah merubah potongan rambut saya. Tidak pernah merubah bentuk kumis dan jenggot saya. Tidak pernah merubah cara berpakaian saya. Pacar sayalah yang mengajarkan saya untuk merubah semuanya itu. Kesan bahwa menuruti keinginan perempuan itu adalah penjajahan bagi laki-laki sungguh menggelikan buat saya. Seharusnya, laki-laki sadar. Bahwa itu semua dilakukan semata hanya membuat kalian terlihat cakep di mata pacar kalian. Sesungguhnya hinaan dari teman setongkrongan itu tidak sebanding dengan hinaan dari sang pacar. Jadi untuk semua yang merasa bahwa laki-laki yang menuruti kata perempuan itu. tidak lebih dari laki-laki yang berego tinggi dan kelak hanya akan membuat kalian para perempuan...

ironi yang tidak ingin kita rasakan

Sebagai penyuka sepakbola, dimulainya pertandingan piala AFF yang diikuti Indonesia tentu menjadi hal yang menyenangkan bagi saya. Entah mengapa, kebahagiaan karena timnas sepakbola mencetak gol seperti membuat saya dipenuhi energi dalam tubuh untuk berteriak sambil berjingkrak. Piala AFF yang seharusnya adalah turnamen yang biasa saja bahkan cenderung tidak penting. Tetapi, bagi timnas Indonesia, ironisnya turnamen ini menjadi usaha satu-satunya untuk membuat kita bangga. Mimpi berbuat banyak dalam kompetisi setingkat benua asia atau dunia masih jauh panggang dari api. Kebanggaan atas juara piala AFF tentu harus kita syukuri, sebagaimana bersyukurnya Negara san marino setelah mencetak gol. Kita harus mawas diri bahwa timnas Indonesia kita banggakan hanya sebatas kemenangan tanpa gelar juara. Polemik pengurus PSSI selaku induk persepakbolaan nasional membuat timnas Indonesia seperti terjun paralayang. Lamban menukik. Secercah harapan akan perubahan masih terus diupayakan a...

ironi ketegasan

seharusnya permasalahan ini tidak melebar. topik yang terlalu kusut untuk manusia yang bahkan kedewasaan sikapnya juga masih perlu dipertanyakan lagi. umur mungkin bukan penentu kedewasaan sikap yang dimiliki. orang yang telah berumur diatas 20 tahunan pun masih terlihat sikapnya sering berubah. seperti pendulum. ciri seorang dewasa katanya sikap tegas. pdahal ketegasan itu sendiri terkesan rancu. tegas yang mana? tegas yang mengubah benda menjadi binatang buas atau tegas yang membuat dia tidak goyah. dalam setiap ketegasanpun harus ada sedikit rasa keraguan. ragu adalah ironi dari sikap tegas. ketika suatu ketegasan terlampau berlebih. bahkan hingga merusak. ragu ibarat rem dari arti ketegasan itu. keraguan yang dipendam akan membuat kita berhenti dari rasa ketegasan yang seperti binatang buas.