Ghost In The Cell
Suatu hari kau bertemu seseorang. Ia mengingatkanmu tentang kejahatan pemegang kekuasaan. Kau merasa berdosa karena kau merasa kaulah penyebab kejahatan tersebut terjadi. Kaulah yang memberikan kekuasaan kepadanya. Kau memilihnya pada saat pemilu. Kau hanya tertawa getir menyaksikan orang yang kau pilih, yang sekarang memegang kekuasaan, melakukan kejahatan yang temanmu ceritakan hari ini. Kau jadi teringat akan rasa bersalahmu.
Film ini bercerita seolah-olah kamu adalah kau, dan ia mengingatkanmu akan masalah tersebut. Bagi yang senang diceramahi atau diberi tahu tentang kondisi negara yang buruk-buruk, mungkin kau akan suka. Tapi bagi saya yang kurang suka diceramahi, film ini terlalu preachy atau terlalu bernada moralistik.
Meski sentilan-sentilannya menarik, hal tersebut membuat ceritanya tersendat. Saya merasa itu terjadi karena penulisnya ingin sekali menyampaikan pesannya secara gamblang, dan itulah alasannya kenapa menurut saya film ini terlalu bernada moralistik.
Dari segi artistik, saya mengapresiasi upaya sang sutradara menampilkan sesuatu yang artistik pada semua kematian dan bagaimana kondisi mayat di film ini. Saya juga mengapresiasi pengambilan gambar dan beberapa remah-remah yang dilempar di awal film untuk terbayar pada akhir film: adegan soal anaknya Anggoro bercerita tentang temannya, soal tokoh sipir yang menjadi penentu di akhir film, serta soal tokoh penipu telepon.
Film ini lucu, lucu sekali. Di balik kengerian yang terjadi, ada beberapa bagian yang membuat saya tertawa karenanya. Adegan perkelahian Anggoro dan Bimo menjadi puncaknya. Visi editing dan pengambilan gambar menambah kelucuan berkali-kali lipat.
Di akhir film, pada saat menuju klimaks, ada satu tokoh yang menarik kesimpulan dari kebingungan seluruh penghuni penjara. Di situ saya merasa filmnya tiba-tiba berubah menjadi lebih komikal. Semua adegan setelahnya adalah perayaan tentang film kualitas rendah: penuh dengan kejadian konyol yang tidak diniatkan untuk konyol, tapi jadinya konyol.
Secara logika cerita, saya tidak menemukan alasan kenapa seseorang tersebut bisa mengetahui orang yang dicari. Itu juga bukan hasil dari kesimpulan para tokoh utama dari awal, melainkan diberi tahu oleh seseorang yang baru terlihat di tengah film. Saya tidak menangkap maksud dari itu semua.
Tapi bagi yang suka menyaksikan adegan sadis yang menarik, humor yang lucu dan getir, serta penuh satir dan sarkas tentang permasalahan sosial masyarakat, saksikan film ini di Netflix.

Komentar
Posting Komentar