Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Kapan Kawin Part 12

BAB 12 Akhirnya Terjawab Part 2 Ia sedang berada di kamar rias. Agil sedang bersiap menuju tempat resepsi pernikahannya. Hari ini tanggal 8 Agustus. Ia memilih tanggal ini sebagai tanggal pernikahan karena angka 8 yang berbentuk tak berujung. Ia berharap pernikahannya sama. Tak berujung menjadi sebuah jalan buntu. Terus mengisi saling memberi aliran. Sebuah gedung yang cukup luas. Mampu menampung 1000 tamu telah bersiap. ia memang ingin acaranya besar. Sebagai bukti baktinya pada mertua windi. royalti sebagai penulis ternyata cukup untuk menggelar pernikahan seperti ini. Ia bersyukur karenanya. Dibantu windi yang juga seorang penulis, banyak yang membantu agil dalam memasarkan bukunya. Dan orang-orang yang berjasa itu kini hadir pada acara kebahagiaannya. Ada editornya wawan. ada kepala penerbit. Ada teman-teman rumah baca. Ada rekan kerjanya. Rendi dan yanto beserta keluarga masing-masing. Agil kini memang sudah berada di tempat resepsi pernikahannya. Ia segera bersiap ...

Kapan Kawin Part 11

BAB XI Akhirnya Terjawab Part 1 Hari ini tanggal 31 juli. Hari yang ditunggu-tunggu oleh yanto tiba. Ia sedang berada di pelaminan. Ya, hari ini pertanyaan kapan kawin yang menganggu seumur hidup tertuntaskan. Ia merasa lega. Ia telah bersiap dari pagi hari. Senyum merekah dan kebahagiaan hadir selalu pada yanto. Ia telah mengucapkan ijab qabul dan resmi menjadi istri agya larasati tepat pukul 09.30. kini ia berada dalam resepsi pernikahan yang indah. Teman-teman kantornya berdatangan. Saling mengucapkan selamat. Agil dan rendi juga ada. Rendi beserta keluarganya. Agil beserta calon istrinya. Windi. mereka juga mengucapkan selamat. Menikmati hidangan yang cukup mewah. Keluarga agya terlihat bahagia. Yanto masih terlihat sibuk bersalaman. Agil dan rendi menikmati hidangan. Duduk bersama dalam satu meja. rendi dan windi serta agil dengan istrinya rendi bertukar sapa. Agil masih mencari momen yang tepat. Ia ingin mengabarkan berita bahagia bersama windi. Ia masih me...

kapan kawin part 10

BAB X Mencari Bantuan Jawab Part 2 Wawan memanggil agil ketika ia telah pulang dari kantor. Ia meminta agil segera menemuinya di kantor penerbit. Ia menyetujuinya. Mungkin memang itu adalah sesuatu yang penting. Agil memacu motornya. siang yang terik menemani agil. seakan memayungi. Ia menyeka keringat. Kancing jaketnya ia buka seluruhnya. Tiba di kantor penerbit. Sebuah bangunan dua lantai. Ia bertemu dengan resepsionis wanita. Ia menanyakan “ada yang bisa saya bantu pak?” “mau bertemu dengan pak wawan.” “baik, sebentar ya pak. Tunggu!” wanita itu segera mengangkat telepon. Menghubungkan pada wawan. “pak, ada yang ingin menemui bapak?” “Siapa?” Maaf, ia menutup teleponnya menggunakan tangan kanan. Gagang teleponnya ia pegang pakai tangan kiri. “namanya siapa ya pak?” “agil, mba!” ucap agil. “agil pak” ia membuka tutupan teleponnya dari tangan kanannya. Berbicara kepada wawan. “silahkan masuk” kata wanita tersebut. “Silahkan, pak...

Kapan Kawin Part IX

BAB IX Mencari bantuan menjawab Rendi datang ketika agil sedang merangkul yanto. Dengan nakal ia berkata, “cie! Kalian sejak kapan pacaran?” “Sialan lu!” ucap yanto dan agil, kompak. Rendi tertawa lebar. Ia segera menghampiri mereka berdua. “kenapa? Kenapa?” ucap rendi. Ia memang lebih bijak. Mungkin karena telah menikah. “begini,” agil membuka suara. “yanto bingung mencari tambahan biaya dari mana?” “oh. Ini sih gampang.” Ia duduk di sebelah mereka berdua. Ia mengambil gorengan yang tertata rapi di meja. “Kita bilang saja sama teman kantor kita.” Sambil memegang gorengan rendi berkata. “ah, tidak, saya malu.” Yanto yang berbadan tambun berkata. Cukup aneh. Sebenarnya dengan badan ia yang besar. Ia bisa saja mengandalkan hal itu untuk mendapatkan uang. Namun badan besar tak menjamin juga memiliki nyali yang kuat. Ia justru penakut apabila bertemu dengan konflik fisik. “nanti saya yang akan bilang.” Rendi menawarkan diri. Rendi kemudian ber...

Kapan kawin Part VIII

BAB VIII Gagal menemukan jawaban Agil memacu motornya membelah kota bandung yang dingin. Sisa hujan membuat jalanan sedikit basah. Terdapat genangan di beberapa titik. Ia berusaha menghindar dengan mengemudikan motor dengan zig-zag. Cukup berbahaya, ia berhenti melakukannya setelah ditegur oleh pengendara lain. Setelah itu, ia berjalan lambat. Seandainya ada lomba balap, kura-kura akan menang jika melawan agil. ia membuat kagok pengemudi di belakangnya. Ia menepi. Berpindah ke lebih pinggir sambil mengeluh maunya apa ini pengguna jalan. Saya salah mulu. Dengan segala drama tidak penting di jalan, ia tiba di rumahnya. Sebelum tidur, yanto menelepon. Ia seperti sedang memiliki masalah. Agil mengangkat teleponnya. Ia segera bangkit dan memasangkan earphone pada teleponnya. “ada apa?” “aku bingung mencari uang buat menikah” yanto langsung berbicara tanpa basa basi. “jangan khawatir, nanti juga akan ada jawabannya.” Agil berusaha menenangkan yanto. “besok hari t...

Kapan Kawin part VII

BAB VII Pertanyaan lain yang lebih penting. Tiba di rumah windi. Ia mempersilahkan agil untuk masuk ke dalam rumahnya. Namun agil menolak. Ia hanya menunggu di teras rumah yang sekaligus rumah baca. Tempat rak-rak buku terpajang. Ia bergerak menuju arah rak buku. Memilah untuk kemudian mengambil sebuah buku. “Pulang” karya Leila S. Chudori. Membuka halaman buku. Membaca sebentar. Kemudian duduk kembali. Di sebuah karpet warna merah. Windi telah berganti pakaian. Kali ini lebih kasual. Ia kembali ke tempat agil. mengajak masuk ke dalam. “agil, udah dulu. Yuk masuk. Kita makan” ucap windi, sekilas dari pintu. Agil segera bergegas masuk. Menyusul windi. kembali ia merasakan sedikit guncangan. Ia sadar ini adalah pertaruhan dirinya. Ia harus menunjukkan di depan orangtuanya. Ia layak menjadi mantunya. Kini dengan sedikit gugup, ia sudah berada di sebuah meja makan berbentuk persegi panjang. Agil beserta keluarga windi makan bersama. Agil dan windi berdekatan di sebelah kir...

Kapan Kawin BAB VI

BAB VI Pelengkap Jawaban Setelah momen yang tak sengaja itu. Agil dalam hati bersyukur. Tuhan telah merancang skenario yang baik. Akhirnya ia tahu dan mampu mengungkapkan perasaannya. Ia sadar, ia mungkin sengaja tadi tidak mematikan laptop. windi juga mungkin sengaja ingin melihat. Entah, kesempatan-kesempatan yang selalu dipertemukan dengan kesiapan akan menghasilkan kesuksesan. Agil percaya itu. Setelah mengerti perasaan masing-masing. Agil beserta windi menjadi lebih cair. Tidak ada lagi momen canggung yang hadir. Kini hanya ada dua insan yang sedang berbagi rasa. Menceritakan hidup dari sudut pandang berbeda. Pelayan datang membawa pesanan masing-masing. Agil mengaduk caramel machiatonya dengan sendok kecil. Windi langsung meminum sedikit green tea. “sini, lihat cerpenku ini? Menurutmu gimana?” agil bertanya pada windi yang tersenyum setelah menyeruput green tea yang dipesannya tadi. Agil membenarkan posisi duduknya. Ia berusaha sedekat mungkin dengan windi. Windi...

Kapan Kawin Part V

BAB V Windi jawabannya Agil tiba di sebuah cafe. Tempat ini penyedia kopi. Sebagai penyuka kopi, agil sering mampir ke sini. Agil sudah berada di kafe sejak 30 menit lalu. Sore yang cukup mencerah. Suasana musik instrumental mengalun memayungi ruangan kafe. Meraung meletakkan orang-orang pada nostalgia. Meski sore hari, kafe sudah terlihat ramai. Pengunjung sangat beragam. agil sendiri menunggu windi. Ia memesan terlebih dahulu. Mengangkat tangan “mbak, saya pesan dong?” arahan dari pelayan yang sedang mengantar pesanan menjawab “pesan saja langsung ke kasir.” Ia berhenti mengangkat tangan. Ia merasa malu. Konsep kafe yang dulu seperti itu. Sekarang menjadi berubah. Ia sering mampir ke sini namun ia tak terlalu akrab. Ia memang suka menyendiri. Ia segera bangkit berdiri. Ia mengangkat tas yang dibawanya. Merangkul ke bahunya. Merapihkan rambutnya. Menuju ruang kasir. “mau pesan apa mas agil?” seorang kasir yang sudah dikenalnya menyapa. “sepe- ” belum sempa...

Kapan Kawin Part 4

BAB IV Usaha Untuk Menjawab Pertanyaan Agil bangun tepat waktu. Ia segera bergegas. Tiba di kantornya. Ia sudah tak sabar bertemu rendi. “rendi! Agil memanggil rendi dengan ramah. Ia bertemu di bawah cahaya sinar pagi. Sedikit basah akibat hujan sisa semalam. Di sekolah bagian dekat pintu masuk. Bau besi karat yang menyengat. Serta suara derap langkah siswa yang berduyun. “Agil!” Rendi balik memanggil. Ia tersenyum, saling bersalaman. Rendi dan agil berjalan hampir berbarengan menuju kantornya. Tas selempang tergantung di masing-masing punggungnya. “kamu tau gak? Yanto sudah punya pacar?” “Serius?” Mimik wajah rendi mengerut. Yanto tiba-tiba datang dari belakang. Ia merangkul agil dan rendi. “Ada apa hayo?” “Kamu sudah punya pacar?” rendi bertanya pada yanto. “sudah dong” ucap yanto bangga. Suasana semakin riuh. Teman-teman kantornya yang lain semakin ramai membicarakan. Mengucapkan selamat kepada yanto. Semenjak mereka bertiga tiba di tempat kantornya. Y...

kapan kawin part 3

BAB III Orangtua yang bertanya dan menjawab sendiri “Akhirnya saya dapat pasangan”, kata yanto lega. Yanto sudah hampir menyerah soal jodoh andai saja dia tidak bertemu agya. Ia bertemu melalui aplikasi tinder. Yanto awalnya skeptis terhadap aplikasi tinder ini, namun ia tak menyerah dan mencobanya. Akhirnya yanto bertemu dengan agya. Sebelum bertemu, agya dan yanto begitu intens berbalas pesan singkat. Tanda kecocokan diantara mereka. Yanto selalu tersenyum apabila mengingat agya sering sekali bercerita dengan kesal semua temannya bercanda yang sudah basi. “Namanya siapa?”  “Agya.” “Merek mobil ya?” Itu adalah candaannya. Sungguh sangat tidak lucu dan membosankan. nama agya sendiri adalah pemberian kedua orangtua. agya adalah gabungan nama kedua orangnya. agus dan mia. sungguh kreatif sekali. Mereka berdua (yanto dan Agya) bertemu di kafe yang sama dengan agil. Itu adalah pertama kali yanto bertemu. Yanto makin mantap dengan agya. Yanto, yang berum...

Kapan Kawin? Part 2

BAB 2 Google saja tidak mampu menjawab Saatnya pulang. Waktu telah menunjukkan pukul 13.30. seluruh siswa dan guru telah pulang. Agil tinggal sendirian di kantor. Bersiap pulang juga. Agil keluar kantor. Menggandeng tas yang biasa ia bawa. Menuju parkiran mencari motor Suzuki tahun lama miliknya. Bajunya sudah lusuh. Bagian lengannya ia gulung. Tiba di parkiran agil naik motor, menyalakannya. Suara desingan cempreng knalpot motor menemani agil menuju jalan pulang. Agil melenguh, tiba di rumah. Ia memarkirkan motornya di teras rumahnya. Turun dari motor, dihadapannya kini adalah pintu berwarna putih kusam berkarat. Agil memegang pegangan pintu, memutarnya hingga suara “ceklek” tanda pintu terbuka terdengar. Agil mengucapkan salam. Masuk ke dalam rumah. Menuju kamarnya. Menyimpan tasnya. Menjatuhkan badan ke tempat tidur yang masih berantakan. Agil mengambil handphone yang tersimpan pada saku celananya. Mengecek sosial media twitter. Agil berencana pergi nanti sore ke ...

Kapan Kawin? Part 1

KAPAN KAWIN? PROLOG Jalan yang ditempuh setiap orang berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksa orang untuk mengikuti arahan kita. Begitu pula dengan Agil Munawar. Laki-laki umur 24 tahun. Lahir di bandung dari keluarga yang tidak kaya tidak juga miskin. Ya sederhanalah. Namun terkadang dia memiliki sifat pembangkang. Kadang-kadang dia selalu  gigih akan keinginannya yang tak mampu dipenuhi ibunya. Agil bekerja sebagai staf tata usaha. Sudah lulus kuliah. Belum punya pasangan. Dan salah satu hal keinginan terbesar ia adalah menikah. Seandainya teman-temannya tidak mempertanyakan itu, sebuah pertanyaan yang menurut agil menyebalkan, “Kapan Nikah?”. Ia tak akan sekhawatir ini. Agil sebenarnya merasa masih muda untuk memikirkan menikah. Namun, teman-teman seangkatan agil malah sudah memiliki anak di umur agil sekarang. Kadang agil selalu merasa kesal, ingin sekali menikah, namun orangtuanya pun terutama ibunya membantah dirinya. Seakan-akan nama munawar adalah sebuah kesempa...

Angan VS Ingin

Gerbang telah dibuka, kematian akan datang menjelang. Kondisi yang dinanti-nanti manusia telah tiba. Bagaimana suatu acara bisa berlangsung secepat ini. Pikiran kotor merasuk dalam hati. Aku adalah angan dan kamu adalah embun. Kita ada di setiap pagi kalian. Namun kalian tak peduli. Kalian asyik dengan hari lain. Kadang angan berubah jadi ingin. Sebenarnya andai tidak ada angan semua cerita tidak akan berlanjut.

Guru yang menginspirasi

Kota bandung hari ini hujan deras. Membuat orang malas sekolah. Tidur-tiduran di lantai yang mengasyikkan. Tiba-tiba kepikiran, apa bedanya saya jika bertemu guru yang menginspirasi? Apa kalau saya menjadi bagian murid guru tersebut saya akan sukses? Atau sebaliknya sukses dulu maka akan bertemu dengan guru yang lebih baik? Membayangkan masuk sekolah yang berkualitas, itu bukan soal mau? Tapi mampu tidak? Semuanya juga mau. Itu guru menginspirasi. Yang tidak bisa, misalnya saya dengan ketidakmampuan kelulusan. Nilai jelek misalnya, berhak tidak mendapatkan sekolah berkualitas menginspirasi? Guru yang baik itu mahal. Ia jarang. Maka tidak setiap orang berhak mendapatkannya. Beruntunglah orang yang mendapatkannya. Saya sebenarnya membayangkan, guru inspirasi itu selalu diputarkan, mengajar kepada setiap guru agar setara. Sulit namun harus. Guru harus berhenti. Bahkan jika ia sebenarnya pintar.

Izinkan aku masuk dalam tubuhmu

Izinkan aku masuk dalam tubuhmu. Mengalir dalam aliran darah menggerayangi dalemanmu. Aku mulai dari yang paling dekat kematian. Urat nadi di leher. Merasuk terus hingga jantungmu. Malam ini aku ingin tidur di sini. Di dalam tubuhmu. Di dalam dalemanmu. Seandainya Tuhan memanggil, aku tak peduli. Tuhan mengerti, aku dalam tubuhmu. Karena sesungguhnya Tuhan Maha Asyik. Tuhan tak akan menganggu umatnya yang sedang bahagia. Hingga aku tak bisa keluar namun justru ingin tetap tinggal.

yang dipetik dari Cabai Merah

Filosofi Cabe Merah sebagai grup bedah itu seperti candu. Ketagihan untuk hal baik. Sebagaimana pedas yang bikin nagih pada seblak dan atau panganan lain yang pedas. Cabe Merah adalah wadah bagi penulis untuk berkembang dengan bedah tulisan. Pedas pada Cabe Merah juga identik dengan “sakit”. Sebagaimana bedah tulisan, “menyakiti” tulisan agar menjadi lebih baik.  Cabe Merah juga bisa berarti bahan masakan. Bahan masakan berupa penambahan rasa nikmat. Ibarat seblak tanpa cabai hanya akan jadi sayur tulang. Ibarat mie instan tak akan sempurna tanpa cabai merah. Tulisan tanpa bedah tulisan akan menjadi tulisan yang tak sempurna. Mungkin itulah asumsi saya terhadap makna filosofis dari grup bedah tulisan yang dibentuk oleh komunitas penulis ODOP. Saya bisa saja salah, pendirinya mungkin hanya berpikir sederhana, menamai grup bedah tulisan berdasarkan nama bahan masakan. Filosofi ini saya pegang betul pada setiap bedah tulisan berlangsung. Saya mungkin bisa saja salah, ilmu...

Akibat Hujan, Persib Telan Kekalahan

Minggu, (12/11/2017) persib menelan kekalahan pada pertandingan terakhir Liga 1. Persib kalah oleh tim papan bawah perseru serui saat tampil di kandang sendiri di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung. Dalam pertandingan yang berakhir dengan skor 2-0 tersebut, persib bermain tanpa bintangnya, Michael Essien. Dua gol kemenangan Perseru dicetak oleh Ryutaro Karube pada menit ke-70 dan Silvio Escobar pada menit ke-81.   Dengan hasil ini, Perseru Serui selamat dari zona degradasi sekaligus mengirim Semen Padang yang pada pertandingan lainnya menang lawan PS TNI degradasi ke Liga 2. Untuk persib, ini adalah kekalahan perdana bagi Persib Bandung pada musim ini. Akibat kekalahan ini, setelah pertandingan, bobotoh, sebutan untuk pendukung Persib Bandung marah. Mereka turun ke lapangan dan sempat terlibat keributan dengan pasukan pengamanan. kemudian mereka juga menyerbu berusaha masuk ke ruang ganti pemain untuk menumpahkan kekecewaan. Akibat Hujan Menurut p...

Memperkuat Kepercayaan

Usaha saya untuk sukses berbeda dengan orang hebat. mereka butuh sedikit, saya perlu ekstra kerja. saya benci sekali momen ini. Momen ketika kemajuan terasa sedikit. Effortless adalah musuh besar. Ketidakberdayaan menganggu kenyamanan. Saya sedang menuju sukses yang saya khawatirkan bukan jalanku. Aku sedang berada di persimpangan. Orang yang berada di persimpangan biasanya tak tahu, dia akan berhenti dan berpikir. Aku juga sedang berpikir. Ingin melanjutkan atau tidak. Saya sedang menyadari satu hal. Keraguan itu adalah salah satu cara agar kita makin kuat percaya. Hilangkan rasa ragu dan mulai dengan memperkuat kepercayaan,

CTRL + Alt + Del

Kembali dari masa lalu, aku menatap sendu pada layar. Sebuah prisma menampilkan retorika perjalanan hidupku. Ini semua berisi dosa-dosaku. Seperti rewind, film telah diputar mundur. Aku merenungi ini dalam posisi duduk. Di bawah terik selepas hujan. Memancarkan pelangi dari segala penjuru. Seandainya aku mampu, aku akan kembali lagi ke masa lalu. Memperbaiki yang rusak. Menyelamatkan hidupku. Aku tak mampu, kini hanya ada penyesalan dalam batinku. Seandainya hidupku seperti data di komputer. Aku akan dengan bahagia menekan CTRL + Alt + del.

SEKOLAH

Ruang kosong tak berpenghuni Bergerak hanya ilusi Suara kecil nan sederhana Menghapus menenggelamkan gerak Lorong seperti jalur tol Bebas hambatan harus bayar untung Kering warna hanya simbol Kondisi terpejam organisasi adiluhung Kondisi sekolahku sore ini Teriakan jauh seakan tak tempuh Sebuah lingkaran setan Dari sebuah kusutnya pendidikan

Pribadi Unggul

Kalau ada satu hal yang ingin saya bunuh namun tak bisa, satu hal, yaitu sosial media. Kebiasaan mengonsumsi sosial media membuat kehilangan waktu penting yang berharga untuk melaksanakan tugas. Saya hari ini mengalami itu. Saya seharusnya segera menuntaskan membaca buku, tapi saya tak mulai-mulai hingga 12 jam. Saya hilang fokus dan akhirnya tak memulai. Kemudian ada yang mengatakan, tidak apa-apa. Nikmati saja. Syukuri saja nanti juga akan bertemu dengan waktu yang tepat. Namun, tak ada waktu yang tepat. Yang tepat adalah waktu yang digunakan dengan baik. Sekarang saya tak sempat menggunakan waktu dengan baik. Namun, dalam pikiran saya, ada kekhawatiran, ketika kita misalnya khawatir dengan penggunaan waktu. Saya lupa bersyukur dan akhirnya waktu yang memang digunakan dengan tidak baik, menjadi semakin tidak baik. Waktu yang tidak baik asalkan disyukuri akan lebih baik daripada waktu yang digunakan dengan baik namun tidak disyukuri. Ternyata, merayakan itu penting. Momen ketika...

Inventarisir Masalah

Tak sempat posting apapun hari kemarin. Inventarisir masalah adalah kuncinya. Kadang kita merasa masalah telah menumpuk, akhirnya tak mengerjakan apa-apa. Karena kebanyakan masalah ini, kita tak menemukan solusi akhirnya menyerah. Invetarisir masalah. Kalau anda tahu inventarisir masalah, anda tak akan kesulitan. Inventarisir itu adalah pemisahan masalah per bagian. Kita selesaikan satu-satu secara berurutan. Saya menyadari ini penting karena saya selalu meninggalkan pekerjaan yang belum selesai hingga akhirnya tak pernah selesai. Saya sering menulis loncat dari satu tulisan ke tulisan lainnya. Itu adalah kerusakan. Karena akhirnya kita tak pernah menyelesaikan tulisan itu. Saya suka membaca buku sementara tak pernah selesai satu buku, membaca buku selanjutnya. Akhirnya tak selesai. Pada akhirnya memang, solusi dari semuanya adalah selesaikan dulu lalu kerjakan selanjutnya. Karena, kita tak tahu ada apa ke depannya.

Service handphone di tempat resmi

Sekarang saya sudah setengah hari depan layar komputer, saya sedikit kebingungan untuk menulis. Saya belum mandi. Saya akan ceritakan tentang apa yang terjadi kemarin. Pertama saya akan cerita soal hari jum'at. Hari yang sungguh sulit. Saya harus berpergian ke Bandung dua kali. Meninggalkan resiko dengan membayar uang cukup besar. Jadi gini, handphone pacarku yang infinix itu rusak. Jadi saya ingin betulkan dengan pergi ke BEC, setelah sampai sana, saya diskusi dengan tukang servicenya. Ternyata di tempat resmi, service itu seluruhnya. Kerusakan satu bagian diganti semua bagiannya. Juga akibat keteledoran saya yang membiarkan garansi hilang. Hasilnya biaya service untuk ganti mesin dan ganti baterai refurbish itu sekitar 700.000. saya kaget dan terpaksa saya kembali lagi ke pacar saya, memberitahu hal itu. Dan dengan kesepakatan bersama saya kembali lagi ke bandung, menyatakan deal. Handphone di service. Setelah hampir satu jam menunggu. Operasi handphone pun selesai. Saya lega....

Setelah perdebatan hari itu

setelah perdebatan hari itu, apakah perasaan semakin kuat? apakah kita semakin mengerti? semakin Dewasa? tidak juga. apakah pernyataan apa yang tak membunuh kamu itu membuat kamu makin kuat itu benar?menurutku tidak benar. pilihan akan selalu meninggalkan bekas. dua hal. semakin kuat atau semakin terpuruk. silahkan pilih sendiri. Saya punya opsi begini, Gimana kalau misalkan kedua orang ini ada dalam hidup kamu. Bagaimana sikapmu? pelajaran psikologi itu penting tidak? saya tak tahu, tak bisa membayangkan. Tapi saya punya satu hal. Kita punya pilihan. Maaf, saya sedang berantakan. saya belum sempat berpikir akan menulis apa. saya ingin free writing aja. menulis apa aja. sekarang saya mau bicara apa ya. saya terbayang soal malam minggu kemarin. obrolan yang menarik tapi terlalu private. maaf juga soal EYD yang berantakan. sepertinya saya harus berbenah. semangat nulis harus tetap ada dan tumbuh. setelah ini saya juga bingung mau nulis apa, mending berbenah diri dulu. hanya demi meme...

Kegagalan Wawan 4

Kebahagiaan Dira Fauziah

Tidak sulit untuk jatuh cinta pada Dira   Fauziah. Perempuan berumur 20 tahunan lebih sedikit. Mahasiswi yang tidak hanya cerdas juga sangat aktif pada Himpunan Mahasiswa di Kampusnya. Dia juga menyukai Sastra. Terutama Seni Peran. Kalau sedang berperan, dia akan terlihat tak seperti biasanya. Penuh emosi dan masuk ke dalam peran yang dia emban. Laki-laki akan takjub melihatnya. Meski begitu, Dira tak pernah jatuh cinta. Dia merasa laki-laki yang datang mendekatinya, tak spesial. Jika temannya bertanya, dira tak bisa menjelaskan apanya yang tak spesial. Padahal laki-laki yang mendekatinya -kebanyakan adalah laki-laki yang luar biasa. Berprestasi dan membanggakan semua orang. Dira merasakan ini dalam hari-harinya menjalani kehidupan kuliah. Dira, perempuan keturunan Sunda dan Betawi ini, dalam hatinya merasa kesepian. ***** Dira duduk di bawah pohon rindang yang berada tepat di tengah kampusnya. Dira sedang membaca buku. Menunggu latihan teater dimulai. Badan langsingnya di...