Postingan

panca indera dalam sebuah cerita

sebaiknya segera lepas. aroma keringat menguar pada udara yang terasa mendidih. hidung yang tersentuh jemari tangan, mencolek seperti kebiasaan bruce lee ketika menghadapi musuh.  gerak yang lambat namun berima, seperti musik EDM menyentuh sekeliling area rumput. Galih memandang lirih.  syahdu, begitulah biasanya kata orang. katamu, itu belum tentu. Galih beralih pada mendengar. Dia kuatkan fokus pada gendang telinga seakan menimbulkan suara gendang. suara hembusan angin menerpa rumput, seakan berdzikir. suara langkah kaki, begitu kencang dan seperti terburu-buru. Aku ingin mati, Katamu. menjadi pembaca tak akan membikin kaya. Galih beralih pada indera yang lain. indera peraba. Ia sentuh pipimu. bening seperti sebelumnya. tepat di bawah kelopak mata, ada raba yang berbeda. tidak mulus, sedikit bergelombang seperti jalan pedesaan.  air mata penyebabnya. tanganmu terasa kesat menyentuh pipimu. Ia seka air matamu. keringatnya bercampur dengan air matamu sepe...

Yuk bersua.

Gambar
Yuk gabung ke komunitas penulis cerita pendek. Sila cek di gambar ya.

Menjadi Khatib

Menjadi Khatib karya Moch. Akbar Maulana Aku adalah seorang ulama. Namaku cukup terkenal di lingkungan Desa Mindini. Aku biasa menjadi khatib shalat jum'at di Masjid Terbesar di Desa ini. Setiap hari, aku selalu menyiapkan naskah khutbah seorang diri. Dengan mencontek dari buku kumpulan ceramah. yang biasa aku beli di toko buku dekat pasar. Kini, aku sudah memiliki cukup banyak bahan naskah khutbah shalat jum'at. Aku siap menjadi khatib. Suatu jum'at yang terik, aku bersiap. Aku sedang berada di rumahku. Rumah paling besar di Desa Mindini. Aku memang termasuk keluarga terpandang di Desa ini. mungkin, karena ulama terpandang, orang selalu menaruh hormat dan memberikan rezeki kepada kami. mereka selalu mengirimkan makanan, atau barang sebagai wujud terimakasih. Selesai mandi, aku masuk kamar, aku menggunakan pakaian muslim terbaik, warna putih porselen, sebening salju. Menggunakan sarung buatan luar negeri, tebal dan menghangatkan. Tak lupa peci hitam mengkilap, seperti...

Pandangan Awal Tahun

Sepertinya tahun 2018 tidak membuat saya berbeda. Saya akan prediksi ke depannya tahun 2018 seperti tahun 2017 yang lalu. Karena, di awal tahun, saya masih tidak tumbuh sebagai seseorang. Menjadi baik dan komitmen terhadap sesuatu. Saya masih terdampar, terombang-ambing di lautan, tak tahu tujuan. Padahal umur mau mendekati 25 tahun, kalau istilah sekarang hari perak. Ada harapan, ada kekhawatiran, namun kekhwatiran saya lebih besar sekarang ini daripada harapan saya. Apa ada yang salah? Tak bisakah saya memulai dari diri sendiri? Ternyata tak semudah itu.

Di sepetak sawah

Di sepetak sawah aku menabur harapan. Di balik ancaman kemusnahan. Aku menindih tubuh besar itu.  melangkah bolak-balik jigjag seperti mesin berderu Sementara sungai berubah menjadi hijau. Aku masih kuning. Berbau, penuh tai. Setelah menindih tubuh besar itu Aku kembali pulang Kembali melawan harap  Tenggelam air dalam keningku. Merasuk dalam setiap jejak-jejak bajuku. Aku telah berubah menjadi hitam. Mati oleh kuning bersuara berisik.

Nonton Basket di Gor Ctra Arena

Hari ini, senin, 18 desember 2017, saya tiba di rumah setelah menghadiri lebih tepat menonton acara yang seru. IBL series 2 Bandung di Gor Ctra Arena. Perjalanan menggunakan motor yang ditempuh selama sejam lebih dari tempat tinggal saya. Gor Ctra Arena memang sering menjadi tempat berlangsungnya kegiatan acara olahraga. Basket salah satunya. Tiba pukul 14.50, saya segera memarkir motor di sebelah Gor Ctra Arena. Sebuah tempat latihan olahraga  Hoki. Saya kemudian menuju tiket box yang terletak di depan gedung gor sebelah kiri. Harga tiket tribun 30.000 rupiah pun saya beli. Di sekitar tiket box dan area luar gedung Gor juga tersedia stan-stan makanan dan minuman, juga merchandise resmi IBL. Kantong yang menipis, membuat saya tak membeli apapun, hehehe. Kemudian saya langsung menuju pintu masuk, tiket digelangkan oleh panitia, barcode dipindah. Tibalah saya di dalam gornya. Sedang berlangsung pertandingan pertama hari itu, pasicif caesar VS Satya Wacana, saya kemudian bergegas ...

Resolusi Impian di tahun 2018

Resolusi Impian di tahun 2018 Impian atau apa yang ingin kalian harapkan terjadi pada tahun 2018 adalah pengingat. Bahwa hidup adalah tentang usaha untuk mewujudkan impian. Saya sering kali lupa atau bahkan gagal mewujudkan impian tersebut karena tidak pernah berkomitmen terhadap apa yang telah ditulis. Jadi, yang paling penting adalah komitmen melaksanakannya bukan menuliskan impiannya. Untuk itu, saya sepertinya tidak memiliki impian yang muluk di tahun 2018. Saya hanya ingin satu hal sepertinya. Segera saja menemukan renjana saya yang akan menjadikan saya hidup. Renjana itu adalah padanan kata dari passion. Saya yang masih berumur 24 tahun. Masih labil untuk menentukan apa renjana saya. Saya sering berubah-ubah kebiasaan, keinginan, cita-cita yang ingin menjadi pekerjaan. Namun tak konsisten, selalu fluktuatif. Komedian, jurnalis, sastrawan, editor buku, peneliti, adalah beberapa renjana yang sempat saya inginkan. Namun, sepertinya jalan saya menuju kesana sungguh kesulitan...