Postingan

Kapan Kawin Part 12

BAB 12 Akhirnya Terjawab Part 2 Ia sedang berada di kamar rias. Agil sedang bersiap menuju tempat resepsi pernikahannya. Hari ini tanggal 8 Agustus. Ia memilih tanggal ini sebagai tanggal pernikahan karena angka 8 yang berbentuk tak berujung. Ia berharap pernikahannya sama. Tak berujung menjadi sebuah jalan buntu. Terus mengisi saling memberi aliran. Sebuah gedung yang cukup luas. Mampu menampung 1000 tamu telah bersiap. ia memang ingin acaranya besar. Sebagai bukti baktinya pada mertua windi. royalti sebagai penulis ternyata cukup untuk menggelar pernikahan seperti ini. Ia bersyukur karenanya. Dibantu windi yang juga seorang penulis, banyak yang membantu agil dalam memasarkan bukunya. Dan orang-orang yang berjasa itu kini hadir pada acara kebahagiaannya. Ada editornya wawan. ada kepala penerbit. Ada teman-teman rumah baca. Ada rekan kerjanya. Rendi dan yanto beserta keluarga masing-masing. Agil kini memang sudah berada di tempat resepsi pernikahannya. Ia segera bersiap ...

Kapan Kawin Part 11

BAB XI Akhirnya Terjawab Part 1 Hari ini tanggal 31 juli. Hari yang ditunggu-tunggu oleh yanto tiba. Ia sedang berada di pelaminan. Ya, hari ini pertanyaan kapan kawin yang menganggu seumur hidup tertuntaskan. Ia merasa lega. Ia telah bersiap dari pagi hari. Senyum merekah dan kebahagiaan hadir selalu pada yanto. Ia telah mengucapkan ijab qabul dan resmi menjadi istri agya larasati tepat pukul 09.30. kini ia berada dalam resepsi pernikahan yang indah. Teman-teman kantornya berdatangan. Saling mengucapkan selamat. Agil dan rendi juga ada. Rendi beserta keluarganya. Agil beserta calon istrinya. Windi. mereka juga mengucapkan selamat. Menikmati hidangan yang cukup mewah. Keluarga agya terlihat bahagia. Yanto masih terlihat sibuk bersalaman. Agil dan rendi menikmati hidangan. Duduk bersama dalam satu meja. rendi dan windi serta agil dengan istrinya rendi bertukar sapa. Agil masih mencari momen yang tepat. Ia ingin mengabarkan berita bahagia bersama windi. Ia masih me...

kapan kawin part 10

BAB X Mencari Bantuan Jawab Part 2 Wawan memanggil agil ketika ia telah pulang dari kantor. Ia meminta agil segera menemuinya di kantor penerbit. Ia menyetujuinya. Mungkin memang itu adalah sesuatu yang penting. Agil memacu motornya. siang yang terik menemani agil. seakan memayungi. Ia menyeka keringat. Kancing jaketnya ia buka seluruhnya. Tiba di kantor penerbit. Sebuah bangunan dua lantai. Ia bertemu dengan resepsionis wanita. Ia menanyakan “ada yang bisa saya bantu pak?” “mau bertemu dengan pak wawan.” “baik, sebentar ya pak. Tunggu!” wanita itu segera mengangkat telepon. Menghubungkan pada wawan. “pak, ada yang ingin menemui bapak?” “Siapa?” Maaf, ia menutup teleponnya menggunakan tangan kanan. Gagang teleponnya ia pegang pakai tangan kiri. “namanya siapa ya pak?” “agil, mba!” ucap agil. “agil pak” ia membuka tutupan teleponnya dari tangan kanannya. Berbicara kepada wawan. “silahkan masuk” kata wanita tersebut. “Silahkan, pak...

Kapan Kawin Part IX

BAB IX Mencari bantuan menjawab Rendi datang ketika agil sedang merangkul yanto. Dengan nakal ia berkata, “cie! Kalian sejak kapan pacaran?” “Sialan lu!” ucap yanto dan agil, kompak. Rendi tertawa lebar. Ia segera menghampiri mereka berdua. “kenapa? Kenapa?” ucap rendi. Ia memang lebih bijak. Mungkin karena telah menikah. “begini,” agil membuka suara. “yanto bingung mencari tambahan biaya dari mana?” “oh. Ini sih gampang.” Ia duduk di sebelah mereka berdua. Ia mengambil gorengan yang tertata rapi di meja. “Kita bilang saja sama teman kantor kita.” Sambil memegang gorengan rendi berkata. “ah, tidak, saya malu.” Yanto yang berbadan tambun berkata. Cukup aneh. Sebenarnya dengan badan ia yang besar. Ia bisa saja mengandalkan hal itu untuk mendapatkan uang. Namun badan besar tak menjamin juga memiliki nyali yang kuat. Ia justru penakut apabila bertemu dengan konflik fisik. “nanti saya yang akan bilang.” Rendi menawarkan diri. Rendi kemudian ber...

Kapan kawin Part VIII

BAB VIII Gagal menemukan jawaban Agil memacu motornya membelah kota bandung yang dingin. Sisa hujan membuat jalanan sedikit basah. Terdapat genangan di beberapa titik. Ia berusaha menghindar dengan mengemudikan motor dengan zig-zag. Cukup berbahaya, ia berhenti melakukannya setelah ditegur oleh pengendara lain. Setelah itu, ia berjalan lambat. Seandainya ada lomba balap, kura-kura akan menang jika melawan agil. ia membuat kagok pengemudi di belakangnya. Ia menepi. Berpindah ke lebih pinggir sambil mengeluh maunya apa ini pengguna jalan. Saya salah mulu. Dengan segala drama tidak penting di jalan, ia tiba di rumahnya. Sebelum tidur, yanto menelepon. Ia seperti sedang memiliki masalah. Agil mengangkat teleponnya. Ia segera bangkit dan memasangkan earphone pada teleponnya. “ada apa?” “aku bingung mencari uang buat menikah” yanto langsung berbicara tanpa basa basi. “jangan khawatir, nanti juga akan ada jawabannya.” Agil berusaha menenangkan yanto. “besok hari t...

Kapan Kawin part VII

BAB VII Pertanyaan lain yang lebih penting. Tiba di rumah windi. Ia mempersilahkan agil untuk masuk ke dalam rumahnya. Namun agil menolak. Ia hanya menunggu di teras rumah yang sekaligus rumah baca. Tempat rak-rak buku terpajang. Ia bergerak menuju arah rak buku. Memilah untuk kemudian mengambil sebuah buku. “Pulang” karya Leila S. Chudori. Membuka halaman buku. Membaca sebentar. Kemudian duduk kembali. Di sebuah karpet warna merah. Windi telah berganti pakaian. Kali ini lebih kasual. Ia kembali ke tempat agil. mengajak masuk ke dalam. “agil, udah dulu. Yuk masuk. Kita makan” ucap windi, sekilas dari pintu. Agil segera bergegas masuk. Menyusul windi. kembali ia merasakan sedikit guncangan. Ia sadar ini adalah pertaruhan dirinya. Ia harus menunjukkan di depan orangtuanya. Ia layak menjadi mantunya. Kini dengan sedikit gugup, ia sudah berada di sebuah meja makan berbentuk persegi panjang. Agil beserta keluarga windi makan bersama. Agil dan windi berdekatan di sebelah kir...

Kapan Kawin BAB VI

BAB VI Pelengkap Jawaban Setelah momen yang tak sengaja itu. Agil dalam hati bersyukur. Tuhan telah merancang skenario yang baik. Akhirnya ia tahu dan mampu mengungkapkan perasaannya. Ia sadar, ia mungkin sengaja tadi tidak mematikan laptop. windi juga mungkin sengaja ingin melihat. Entah, kesempatan-kesempatan yang selalu dipertemukan dengan kesiapan akan menghasilkan kesuksesan. Agil percaya itu. Setelah mengerti perasaan masing-masing. Agil beserta windi menjadi lebih cair. Tidak ada lagi momen canggung yang hadir. Kini hanya ada dua insan yang sedang berbagi rasa. Menceritakan hidup dari sudut pandang berbeda. Pelayan datang membawa pesanan masing-masing. Agil mengaduk caramel machiatonya dengan sendok kecil. Windi langsung meminum sedikit green tea. “sini, lihat cerpenku ini? Menurutmu gimana?” agil bertanya pada windi yang tersenyum setelah menyeruput green tea yang dipesannya tadi. Agil membenarkan posisi duduknya. Ia berusaha sedekat mungkin dengan windi. Windi...